Catatan Redaksi : 'Kapan Penderitaan ini akan Berakhir ?'
Kita semua pasti punya mimpi. Mimpi di suatu hari nanti, KRL Jabodetabek akan berjalan dengan lancar tanpa gangguan, aman dan nyaman serta manusiawi. Kapan kira-kira mimpi ini akan terwujud ?. Apakah keinginan tersebut begitu sangat muluknya sehingga sulit untuk diwujudkan ?.
Beberapa hari terakhir ini, kembali para Pengguna KRL Jabotabek, terutama jalur Jakarta-Bogor, didera beragam permasalahan di perjalanan saat menggunakan Kereta Listrik. Dari mulai KRL mogok, KRL gerbong 'diskon' alias KRL pendek, hingga gangguan yang sangat-sangat 'evergreen', seperti masalah persinyalan dan wessel. Pemandangan KRL yang mengangkut penumpang dengan sangat tidak manusiawi menjadi pemandangan yang biasa dapat kita lihat di jam-jam sibuk kantor. Sepertinya pihak Operator tidak 'puas-puasnya' menyiksa para Pelanggan setianya setiap hari.
PT KCJ dan PT KA selaku 'penguasa' KRL Jabodetabek harusnya bisa mengatasi semua permasalahan klasik tersebut. Koordinasi antar mereka harus benar-benar berjalan dengan baik. Kalau Kita lihat, gangguan yang disebabkan karena rentannya kondisi sarana dan prasarana per-KRL-an, 'modusnya' sepertinya tidak berubah dari hari ke hari. Yang paling banyak menyebabkan gangguan perjalanan KRL adalah adanya KRL mogok dan Gangguan persinyalan serta wessel.
Alangkah indahnya jika kedua perusahaan 'sedarah' tersebut duduk bersama lebih intens lagi untuk mencari di mana akar permasalahan yang ada. Kalau masalah armada, kemungkinan akan bisa diatasi saat KRL baru nanti tiba dari Jepang, tapi tentu saja harus ada keinginan baik dari Pihak Operator KRL bahwa KRL yang baru daang tersebut akan ditujukan untuk mengganti KRL Ekonomi yang sering mogok. Selain itu, keprofesionalan SDM kedua perusahaan 'sedarah' tersebut harus terus ditingkatkan, terutama dalam hal kepedulian terhadap para pengguna setia jasa mereka (Para Penumpang KRL, Red)
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan juga seharusnya cepat tanggap menyelesaikan permasalahan yang ada di lapangan. baik masalah teknis, maupun masalah koordinasi antara Pihak Kementrian dengan Operator di lapangan. Contoh kasus, kondisi persinyalan yang sangat rentan terhadap gangguan karena faktor alam dan sebab lainnya harus segera dicarikan solusinya.
PT KA harus berani mengungkapkan kelemahan sistem persinyalan yang mereka miliki dan mengupayakan perbaikan dan terus berusaha menjaga agar persinyalannya menjadi lebih handal dan 'tahan banting'.
Sebagai Penumpang KRL, sebenarnya Kami tak terlalu muluk-muluk berharap, apalagi menuntut layanan yang 'tidak masuk akal'. Cukuplah perjalanan KRL lancar dan sedikit nyaman saja sudah membuat Kami bersyukur dan berterimakasih. Karena dengan lancarnya perjalanan KRL, Kami akan terhindar dari sanksi kantor karena masuk kerja terlambat, dan juga dapat berkumpul kembali bersama keluarga di sore harinya.
(KRLmania.com/ photo1 : Dian Wahidah/photo2 : nc )
|